Jumat, Agustus 01, 2008

Memotret Model di Luar Ruang

Jadi seorang pemotret model yang andal tentunya sering menjadi impian hampir setiap pemotret pemula. Bagaimana mungkin tidak menjadi impian jika dalam hal ini kehidupannya dianggap selalu menyenangkan karena bergelut dalam lingkup kalangan “berkelas”, ganteng dan cantik-cantik.


Karena hal itulah maka hampir setiap pemotret pemula selalu memimpikan memiliki studio foto sendiri dan memiliki perlengkapan penunjang pemotretan yang lengkap serta canggih untuk keperluan memotret model di dalam studio demi memenuhi impian itu. Namun demikian, tidak semua pemula pada akhirnya berhasil mewujudkan impian itu. Masalahnya bukan karena perlengkapan studio foto yang tidak mudah didapatkan, melainkan karena harga peralatan lampu studio yang sederhana saja sudah mahal. Apalagi peralatan studio canggih pasti lebih tak terkira lagi berapa dalam kocek harus dirogoh. Itu salah satu alasan bagi seorang pemula yang berkantong cekak.

Dengan alasan itu pulalah membuat tidak semua pemotret pemula akhirnya dapat memenuhi ambisinya untuk dapat mewujudkan keinginannya menggeluti pemotretan model. Bahkan hanya bisa dihitung dengan jari yang pada akhirnya memang betul-betul menjadi pemotret model yang andal.

Sebuah foto, dalam hal ini foto mengenai model yang baik memang tidak selalu hanya bisa dihasilkan dengan peralatan fotografi yang baik, lengkap dan canggih saja, melainkan juga dapat dihasilkan dengan peralatan sederhana. Bahkan juga dapat dihasilkan dengan tanpa menggunakan satu pun peralatan lighting atau lampu seperti pemotretan di studio - tentunya asal tahu tip dan triknya.

Jadi bila tidak dapat mewujudkan impian memiliki peralatan lighting dan studio yang canggih, tak perlu mengurungkan niat memotret model atau untuk menjadi pemotret model yang andal. Karena memotret model tanpa peralatan lampu studio - hanya menggunakan cahaya alami di luar ruang juga bisa dilakukan - bahkan kadang bisa menghasilkan karya yang lebih baik dan berhasil dari foto model yang dilakukan di dalam studio dan menggunakan peralatan yang canggih sekalipun.

Karena itu, bila memang sudah tidak mungkin mendapatkan peralatan lampu dan studio seperti yang diimpikan, kenapa pula tidak menspesialisasikan diri dan menekuni pemotretan model outdoor atau di luar ruang saja.

Teknis
Secara teknis memotret model di luar ruang tidak berbeda jauh dengan pemotretan model di dalam ruang atau studio. Bedanya dari sisi fisik pemotretan di luar ruang tidak menggunakan peralatan banyak seperti yang dilakukan di dalam studio. Selain itu, secara teknis apa yang dilakukan, baik pemotretan di dalam studio maupun di luar ruang (studio) adalah sama.

Pada pemotretan di luar ruang, hal utama yang harus diperhitungkan dan dipertimbangkan adalah waktu. Dalam hal ini karena pemotretan di luar ruang lebih mengandalkan cahaya alami matahari, maka adanya sinar matahari yang baik yang cepat berubah harus diperhitungkan.

Pemotretan di luar ruang akan baik jika dilakukan pada jpukul 08.00 - 10.00 WIB (pagi hari) dan pukul 15.00 - 17.00 WIB (sore hari). Pertimbangan tersebut dilakukan atas dasar perhitungan bahwa pada kondisi tersebut matahri masih cerah dan kuat sinarnya (umumnya jarang terhalang awan). Sudut datang sinarnya pun dari arah samping (miring) sehingga sering menghasilkan foto yang indah dari segi cahaya.

Dari segi peralatan, untuk dapat menghasilkan foto model yang baik di luar ruang, cukup menggunakan kamera maupun lensa biasa serta tak menuntut adanya peralatan lampu seperti halnya lampu studio yang canggih. Selama kamera dan lensa masih berfungsi secara baik maka cukup untuk menghasilkan foto model yang baik.

Dengan kamera 35 mm dan lensa jenis apa pun, baik itu lensa sudut lebar, lensa normal atau lensa tele hingga lensa zoom, tetap dapat digunakan untuk memotret model - dengan catatan pemotret menguasai betul kekurangan dan kelebihan lensa yang digunakannya.

Dalam suatu sesi pemotretan, bisa saja seorang pemotret yang hanya menggunakan lensa sudut lebar - tentunya hal ini atas dasar perhitungan dan pertimbangan tertentu yang diinginkan, dapat menghasilkan foto model yang indah karena kepandaian memaksimalkan kelebihan lensa. Misalnya dengan menyertakan lanskap - pemandangan indah sebagai latar belakang pemotretan sehingga memperkuat gambar.

Sisi lain bisa saja karena satu dan lain hal, memotret model di luar ruang hanya menggunakan lensa standar atau lensa normal - lensa yang sesungguhnya lebih sering disimpan atau dicadangkan belaka oleh kebanyakan pemotret karena tak menghasilkan sesuatu yang dianggap menarik.

Bila mampu memaksimalkan kelebihannya, maka lensa normal yang lebih sering dijadikan cadangan itu sesungguhnya akan memberikan sumbangsihnya dalam menghasilkan foto tentang model di luar ruang dengan baik. Satu hal lagi yang sering dilakukan dalam memotret model di luar ruang adalah penggunaan lensa tele panjang, misalnya tele 200 mm, 300 mm atau bahkan karena suatu keinginan tertentu ada yang perlu menggunakan lensa yang lebih panjang lagi. Akan tetapi kesemuanya juga akan tetap sama saja, yaitu menghasilkan suatu foto yang baik jika pemotret mampu menguasai dan memaksimalkan lensa tersebut.

Dengan menggunakan lensa tele panjang yang canggih sekalipun, bila secara teknis pemotret tidak menguasai dan mampu memaksimalkan keunggulannya, tetap saja tak akan menghasilkan foto model di luar ruang yang baik dan menarik. Salah satu keunggulan menggunakan lensa tele panjang dalam pemotretan model di luar ruang adalah, kemampuannya dalam menghasilkan objek utama yang menonjol (fokus) dibanding latar belakang maupun latar depannya.

Kembali pada persoalan teknis bahw sesungguhnya dengan menggunakan lensa tele yang tidak terlalu panjang juga sudah bisa menghasilkan foto yang tampak menonjol bila hanya itu yang menjadi dasar, tujuan atau keinginan berkaitan dengan hasil pemotretannya. Karena dengan menggunakan lensa jenis zoom seperti 80 - 200 mm yang lebih mudarh dari segi harga, sudah dapat untuk sekadar mengaburkan latar belakang atau pun latar depannya. Terlebih bila menggunakan bukan diafragma besar seperti F:2,8 yang membuat sebuah hasil pemotretan yang baik tak kalah dengan foto yang dihasilkan dengan lensa tele yang lebih panjang.

Pada foto berjudul “berkebun” adalah salah satu contoh hasil pemotretan model yang dilakukan di luar ruang menggunakan lensa jenis tele zoom 80 - 200 mm, bukan diafragma f:2,8. Penonjolan objek yang dalam hal ini dilakukan dengan bukan duafragma f:2,8 pada posisi lensa 200 mm, telah menghasilkan suatu efek kabur (blur) pada latar belakang seperti yang dihasilkan dengan menggunakan lensa tele panjang 300 mm.

Namun demikian, jika ingin suatu hasil prima dari sisi peralatan, pemotretan di luar ruang masih memerlukan alat penunjang seperti misalnya kaki-tiga kamera, khususnya bila menggunakan lensa tele panjang dan tambahan sebuah reflektor untuk membantu memberikan pencahayaan dari arah depan objek serta filter-filter penghangat - mungkin juga filter polarisasi yang mampu memekatkan warna atau membirukan langit. Tak ketinggalan juga tentunya filter pelembut yang secara umum juga memang digemari untuk membantu memberikan kesan lembut pada model.

Kesimpulan
Menghasilkan foto tentang model yang baik memang bisa dilakukan dan ditempuh melalui beberapa cara. Cara yang paling sederhana adalah memotretnya dengan menggunakan peralatan foto biasa (standar) dan dilakukan di luar ruang. Sehingga tidak memerlukan peralatan yang banyak dan mahal. Tetapi bila kesemuanya itu juga tidak dilakukan dengan usaha keras dan cara yang baik, maka tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Keterbatasan alat atau kendala lain yang mengharuskan untuk memotret model di luar ruang, hendaknya jangan membuat pemotretan batal. Karena dengan peralatan yang sederhana tetapi masih berfungsi dengan baik, pemotret harus mampu memaksimalkan kelebihan peralatan yang digunakan. Karena pada dasarnya setiap peralatan foto (lensa) selalu memiliki keunggulan masing-masing. Tugas pemotret adalah memaksimalkan keunggulan-keunggulan itu.

Sisi lain di luar teknis pemotretan hendaknya juga harus dapat dikuasai pemotret, misalnya mampu mengadakan pendekatan terhadap model, pandai menciptakan dan menuangkan gagasan, mengarahkan dan menjalin kerja sama yang baik guna menghasilkan sebuah foto yang baik dengan modelnya.

Memilih waktu pemotretan yang baik dengan mempertimbangkan lokasi, khususnya untuk suatu pemotretan model yang memasukkan suasana sebagai unsur pendamping pendiptaan keindahan. Sekalipun latar belakang sering tidak diperhitungkan, pada pemotretan yang dilakukan di luar ruang setidaknya menjadi bagian yang harus diperhatikan.

latar belakang pemotretan model di dalam studio yang umumnya polos, bila dikehendaki, pemotretan di luar ruangan (studio) juga bisa diciptakan. Misalnya dengan mencari tembok atau mungkin juga menyediakan terlebih dahulu latar belakang dari kanvas seperti halnya pemotretan yang dilakukan di dalam studio. Tak ada salahnya memotret model di luar ruang juga menggunakan latar belakang (background) buatan misalnya.

Kelebihan pemotretan yang dilakukan di luar ruang adalah membuat seorang pemotret mudah mengatur atau memperagakan pose yang diinginkan. Mungkin dengan cara duduk, berdiri atau berbaring pada suatu tempat sesuai arah datangnya sinar matahari dengan menggunakan setting lokasi dan latar belakang suasana setempat. Tidak seperti di studio yang umumnya terbats pada pose duduk saja dan menggunakan latar belakang kain/kertas polos atau mungkin juga kanvas.

Salah satu kekurangan memotret model di luar ruang hanyalah menjadikan pemotret tidak dapat mengubah sudut datangnya sinar atau menambah kekuatan sinarnya. Akan tetapi hal itu pun masih memungkinkan untuk dapat dimodifikasi sehingga menghasilkan sinar yang lembut, misalnya dengan merentangkan kain putih atau kertas tipis di atas objek untuk mengurangi cahaya matahari yang terlalu kuat pada siang hari.

Modifikasi pun dapat dilakukan dengan membelokkan arah sinar dengan menggunakan reflektor yang terbuat dari sterofoam atau kertas timah (umumnya digunakan untuk menambah pencahayaan dari arah depan wajah objek. Bila pemotret dapat memaksimalkan keadaan di sekitar lokasi pemotretan, maka sekalipun peralatan yang digunakan adalah yang standar maka akan mampu menghasilkan foto tentang model yang baik dan menarik.

Kunci untuk menghasilkan sebuah foto model adalah pada bekal kemampuan pemotret itu sendiri. Dalam hal ini kepandaiannya mengutarakan maksud dan gagasan-gagasannya, kepandaiannya melakukan pendekatan terhadap di model dan memaksimalkan peralatan yang ada.

Disarikan dari tulisan Atok Sugiarto

Fotografi Pemandangan Alam

Fotografi landscape adalah aktivitas pemotretan yang di lakukan secara out-door (luar ruangan). Hal yang menarik dari fotografi landscape adalah sisi petualangannya. Biasanya yang melakukan pemotretan landscape secara langsung adalah para pecinta alam atau penjelajah. Tetapi dalam suatu tour atau kunjungan wisata, seringkali kamera foto juga berperan untuk mengabadikan pengalaman dan moment.
Ada beberapa hal kecil yang membedakan foto kenangan dengan foto landscape. Dalam foto kenangan perjalanan, biasanya obyek manusia menjadi pokok terpenting. Sedangkan foto landscape mengajak penikmat foto untuk menikmati pemandangan yang telah kita lihat. Untuk itu ada beberapa tips dan trik untuk membuat jurnal travelling dengan foto-foto.


1. Persiapan alat, Tidak menjadi masalah jenis maupun tipe kamera yang akan dipakai. Kita dapat menggunakan kamera saku, maupun SLR (profesional). Untuk kamera manual, tidak serumit membawa digital. Cukup sediakan cadangan film dan blitz. Biasanya kamera digital telah dilengkapi lampu kilat, dan format panorama.

Tetapi untuk kamera digital kita membutuhkan peralatan lainnya seperti media penyimpanan cadangan, batre cadangan, charger, dan static protector. Usahakan untuk membawa lampu kilat dan tripod kecil. Selain cadangan lensa (kalau ada). Kemudian siapkan tas kecil khusus kamera. Bila tidak ada, memakai tas traveling yang dilapisi plastik juga bisa. Bila kita ingin traveling kedaerah berhawa dingin dan menginap (misalnya naik gunung), belilah silica-gel di toko kamera. Fungsinya untuk menyerap udara lembab. Sehingga kamera tetap terjaga kekeringannya (tidak berembun). Karena bila kamera berembun maka dapat berbahaya bagi lensa dan film kita. Kemungkinan terparah, konsleting sirkuit untuk kamera digital. Cara untuk menjaga kamera cukup mudah. Letakkan kamera dalam tas beserta silica-gel. Atau bungkuslah kamera plus silica-gel dengan kain, dan masukkan kantong plastik. Siaplah alat kita untuk dokumentasi traveling.

2. Membuat Keterangan Foto, Sebuah foto jurnal yang tidak memiliki keterangan traveling, akan berkurang nilainya. Karena hal tersebut membuat orang hanya melihat dan berkomentar kemudian berlalu. Tetapi bila foto tersebut memiliki keterangan, maka kita dapat menceritakan kepada orang tentang kisah foto dan kronologis-nya. Catatan keterangan tersebut tidak harus berbahasa ilmiah, atau berisi data teknis. Tetapi minimal berisi catatan informatif tentang foto. Misalnya :

Judul : Kawah Tangkuban Perahu, di Jawa Barat.
Ket. : Foto ini diambil sore hari jam 15.00. membuat sebagian dinding kawah tampak terang. Dan dasar kawah tampak gelap. Sayangnya, suasana cukup berkabut sehingga detail kawah tidak dapat terekam dengan baik.

3. Tips Pemotretan, Pemotretan landscape (pemandangan) sebisa mungkin menghindari unsur obyek manusia. Bila kita tetap ingin mendokumentasikan diri, batasi penggunaannya. Misalnya satu pemotretan diri untuk satu lokasi menarik.

Mengapa obyek manusia sangat mengganggu? Karena orang tidak dapat menikmati alamnya (hanya tampak sebagai latar/background), dan orang akan melewatkannya begitu saja bila merasa tidak kenal dengan orang-orang yang ada didalam foto. Selain itu, foto landscape yang berisi gambar orang (tanpa memiliki relevansi, apalagi bergaya), tidak / kurang layak dipublikasikan. Akibatnya bila kita menghasilkan foto pemandangan yang spektakuler, tetapi ada rekan kita yang tertangkap kamera di samping kiri atau kanan foto, maka foto tersebut tidak akan laku dijual. Kecuali tentu saja jika memang menggunakan model yang cakep.

Fungsi obyek manusia dalam pemotretan landscape biasanya berlaku sebagai pembanding. Misalnya ketinggian tebing, besarnya ombak, atau hal lainnya. Itu pun harus di tampilkan secara hati-hati dan wajar. Sehingga tidak merusak komposisi foto.
Bila obyek manusia tersebut memang menarik, usahakan saat pemotretan, mereka berlaku wajar. Caranya dengan mencuri-curi atau istilahnya candid (biasanya dengan kamera ber-lensa tele), atau dengan meminta ijin disertai informasi untuk tetap melaksanakan aktivitas secara wajar.

Demikianlah beberapa tips penting yang perlu diperhatikan oleh para pemotret landscape. Memang dibutuhkan latihan dan evaluasi, sehingga kita dapat menbuat jurnal fotografi landscape yang bagus dan menarik. Baik dilihat dari kualitas foto, komposisi, maupun keterangannya. Dengan demikian kita dapat mengajak orang untuk menikmati perjalanan yang telah kita lakukan. Terima kasih atas segala perhatiannya semoga informasi ini cukup bermanfaat.

Sumber : email from SPC

Senin, Juli 28, 2008

Etika fotografi

1. Etika mengambil gambar/foto di ruang publik berbeda-beda di tiap kawasan, tempat atau negara. Sebagai gambaran, kita (di Indonesia) bisa dengan nyaman memotret anak-anak di pinggiran kampung atau dimana saja saat mereka bermain. Tapi jgn harap bisa semudah ini di Australia, mereka punya undang-undang yg tegas tentang perlindungan anak, maka memotret mereka lagi bermain sekalipun, tanpa ijin orang tuanya akan membawa kita ke panjara. Dianggap eksploitasi anak he..he..he..gawat kan?



2. Lalu bagaimana di negara kita? Seperti aku bilang td, kita relatif mudah untuk mendekati, meminta ijin dan memotret. Bahkan sebagian masyarakat kita cuek dan senang saja saat diambil gambarnya, dalam jarak dekat sekalipun. Contoh, di Busway -jakarta, aku memotret pakai HP, sangat dekat dengan obyek, gak ada masalah sementara ini he.he.)

3. Lantas etikanya gimana? Sebaiknya, dimanapun kita mau motret, apalagi obyeknya adalah manusia, mintalah ijin dahulu, dekati dengan ramah, buat mereka dalam kondisi nyaman dan tidak asing dg kita (fotografer). 90 persen orang akan dg senang hati menerima kedatangan kita saat diajak bicara dahulu, pahami kondisi mereka, apalagi mereka kita ajak bicara ttg dirinya, pasti suka. Nah, baru kita sampaikan maksud kita.

Namun untuk beberapa kondisi, fotojurnalis boleh saja mengambil gambar langsung (seperti penumpang angkot itu) untuk mendapatkan momen yg natural seperti km bilang. Tapi jgn lupa bicarakan maksud kita usai motret. Ini yg sebaiknya dilakukan, menyapa beberapa penumpang itu, seperti tanya nama, umur, pekerjaan keluarga, sampai hal remeh-temeh lainnya. Dan ketika mereka tanya buat apa foto?, katakan dg benar apa adanya. Misal untuk sekedar belajar, atau kepentingan pemberitaan yang baik. Jika mereka paham kita lega, namun jika mereka keberatan, jgn coba-coba mempublish secara umum.

Selain tidak menghormati privacy, mereka juga bisa menuntut kita kok.

4. Perkantoran dan mall sering dianggap sebagai ruang publik. Padahal tidak, mereka ibarat pemilik rumah dan halamannya. Apalagi jika disetiap sudut ruang mall ada larangan memotret. Kita tdk boleh seenaknya ambil foto. Meski tidak semua mall dg jelas mengumumkannya. Namun, etika jurnalistik membolehkan kita memotret rumah seseorang, kantor atau mall jika mereka terlibat dalam sebuah kasus yang layak dan berhak untuk diketahui publik. Misal layak dan berhak itu, jika sebuah institusi/orang punya masalah yg dampaknya merugikan banyak orang, katakanlah mall yg punya masalah dengan sistem pengolahan limbah yang mencemari kampung sekitarnya. Kita dibolehkan mengambil gambarnya, atas kepentingan publik.

Tips memotret orang:

1. Permisi, minta ijin (kalau perlu jgn perlihatkan dahulu kamera kita)

2. Ajak bicara apa saja sebelum memotret, bisa jadi akan ada inspirasi banyak saat kita bicara dahulu dengannya.

3. Sampaikan maksud anda saat mau memotret

4. Tunjukkan hasil foto saat itu (jika pake digital), untuk membuat mereka nyaman dan yakin dg kita.

5. Catat kontak mereka, HP, alamat rumah dsb. Suatu saat kita dg mudah akan menemukan mereka jika ada cerita yg relevan dg project foto kita kelak.

6. Sampaikan terima kasih dan memohon maaf jika telah membuat mereka terganggu.

catatan: jika setelah kita ajak bicara mereka menolak difoto, jelaskan kalau ini untuk berita yg baik atau foto yg baik. Jika tetap menolak, hormati mereka, masih banyak obyek foto lain.

Semoga Berguna,

Sumber : Email from SPC

Rabu, Juli 23, 2008

Digital Camera, Sulitkah Merawatnya?

Siapa yang tak kenal dengan kamera digital DigiCam? Bagi sebagian besar orang mungkin sudah tak asing atau bahkan sangat membutuhkannya dalam mendukung pekerjaannya sehari-hari, layaknya kebutuhan akan perangkat komunikasi. Walau sudah sangat mahir dalam menjalankan atau mengoperasikannya, namun tak semua dari para pengguna kamera itu mengetahui bagaimana cara merawat kamera dengan benar agar terhindar dari kerusakan dan berumur panjang.

Berikut ini adalah beberapa tips perawatan kamera, agar kamera bisa berfungsi dengan baik dan maksimal serta berumur panjang :


• Jauhkan dari Kapur Barus

Kapur barus termasuk benda perusak yang sangat 'ampuh' terhadap kamera, yang dapat menyekat-nyekat kamera dan bagian kamera yang lain, yang berbahan dasar karet. Pada kamera elektronik, kapur barus bisa merusak jalur pada PCB (Printed Circuit Board), yaitu tempat chip-chip kamera terpasang dan beberapa elemen chip itu sendiri. Bahka uap kapur barus itu juga dapat menodai dan membuat 'flek' pada lensa.

Sebaiknya, simpanlah kamera di tempat yang kedap udara, sejuk dan kering. Jika harga lemari khusus untuk penyimpanan kamera terlalu mahal bagi anda, anda bisa mencari media penyimpanan alternatif sebagai penggantinya. Seperti misalnya, anda dapat menyimpan kamera dalam stoples yang tertutup rapat dan di dalamnya diberi silica gel, untuk menyerap kelembabannya.

Atau, anda bisa juga menyimpannya dalam lemari yang telah diatur sirkulasi udara dan kelembabannya. Caranya, dengan memasang lampu berkekuatan 5 watt dan diletakkan pada jarak kurang lebih 40 cm di atas kamera dan perlengkapan yang lainnya. Jangan lupa untuk membuka pembungkus kamera dan membersihkannya dari debu sebelum menyimpannya.

Ingat, kerusakan kamera yang diakibatkan oleh kapur barus biasanya tak bisa diperbaiki lagi. Maka, jangan sekali-kali menyimpan kamera di dalam lemari apapun yang telah diisi kapur barus atau kamper pengharum pakaian.

• Hindari Kontak Langsung dengan Sinar Matahari

Jagalah kamera agar jangan sampai terjemur atau terkena cahaya matahari secara langsung dan berlebihan. Panas yang tinggi dapat merusak bagian-bagian kamera yang terbuat dari plastik dan karet, serta komponen elektronik yang lainnya.

• Jagalah dari Goncangan yang Berlebihan

Jangan lupa untuk menaruhnya di dalam tas khusus kamera, guna menghindari guncangan yang berlebihan dengan lingkungan luar maupun benturan antar peralatan. Taruhlah kamera di tempat yang aman dan tahan terhadap guncangan.

• Bersihkan Kamera dan Lensa

Sebaiknya kamera dibersihkan seminggu sekali atau secara teratur dan berkala. Untuk bagian luar fisik kamera, gunakan lap kering yang bersih dan tak kasar. Sedangkan untuk bagian dalam dan elemen-elemen kecilnya, gunakan blower atau peniup yang banyak dijual di toko kamera. Selain blower, juga bisa digunakan kuas berserabut halus, yang belum pernah dipergunakan pada benda yang lain.

Untuk membersihkan lensa yang terkena noda, misalnya terkena jari yang berminyak atau air keringat dari pemakai, pakailah tissue khusus yang banyak dijual di toko

• Hindari Goresan pada Lensa

Untuk menghindari goresan, sebaiknya lensa mempunyai filter ulir yang terpasang permanen di bagian depannya. Filter yang umum menjadi pelindung adalah jenis filter UV (Ultra Violet) atau filter skylight. Sedangkan untuk menghindari goresan di bagian belakang lensa, usahakan selalu memasang 'bodycup' penutup saat lensa dilepas dari badan kamera.

• Hindari Air Laut

Jika anda menggunakan kamera di pantai, jagalah agar kamera tak terkena air laut atau bahkan jatuh ke dalamnya. Air laut sangat jahat dan penyebab karat yang potensial terhadap kamera ataupun perangkat elektronik yang lainnya. kecuali yang memang dirancang untuk bisa beradaptasi dengannya.

Sehabis digunakan di daerah pantai, pembersihan kamera wajib dilakukan sesegera mungkin. Uap air laut seringkali meninggalkan butir-butir garam yang menyebabkan karat pada kamera. Jika suatu saat, tanpa sengaja kamera anda tercebur ke dalam air laut, langsung rendam kamera anda ke dalam air tawar, kemudian bilaslah berkali-kali untuk menghilangkan bekas-bekas air laut.

Proses pengrusakan oleh air laut berlangsung sangat cepat dan dalam hitungan menit setelah tercebur, sehingga bila pembilasan air ini tidak dilakukan sesegera mungkin, kamera yang tercebur ke dalam air laut tak akan bisa diselamatkan. Setelah dibilas hingga bersih dari air laut, bawa segera ke ahli servis kamera untuk membersihkannya dan mengeringkan kamera tersebut.

• Service di Tempat Terpercaya atau Resmi

Secara berkala, dalam kurun waktu tertentu, sebaiknya kamera digital diservis ke tempat khusus, terpercaya dan malah lebih bagus yang resmi. Jangan tunggu kamera rusak kemudian baru diservis. Servis yang dimaksud adalah 'servis besar', yang meliputi pembersihan bagian dalam kamera, seperti pembersihan lensa dari jamur yang menempel atau juga penyesuaian setelan-setelan utama kamera.

Jangan terlampau sering mencuci lensa atau membersihkan bagian dalamnya bila berjamur. Kaca lensa begitu peka. Makin sering dibersihkan, dapat mengakibatkan mutu gambar akan menurun. Untuk menjaga dan merawatnya, sebaiknya jangan disimpan di lemari pakaian anda, karena hal itu akan berpotensi mengundang jamur yang menempel di lensa bagian dalam kamera.

Dipublikasi ulang dari email SPC